Tags

, , ,

“Green school” merupakan istilah yang agak asing di telinga masyarakat awam. Beragam interprestasi dari berbagai kalangan masyarakat pun timbul memaknai istilah tersebut. Mulai dari sekolah alam, sekolah berbasis lingkungan, hingga sekolah hijau yang terbuka bagi siapa saja. Intinya, green school adalah konsep sekolah yang memiliki keramahan dari beragam aspek. Penulis kemudian secara lebih kerucut meyakini bahwa green school adalah sekolah kecil yang mampu memfasilitasi siapapun yang ingin belajar dengan ilmu yang kontekstual dan dengan kesederhanaan fasilitas. Dengan demikian, green school memiliki tiga poin penting, yaitu sekolah yang memfasilitasi siapapun, sekolah dengan ilmu yang kontekstual dan sekolah dengan kesederhanaan fasilitas.

Permasalahan pendidikan Indonesia memang kompleks. “Green school” dengan tiga poin penting dalam definisi di atas merupakan salah satu alternatif solusi bagi permasalahan mendasar tersebut.  Masalah ini teridentifikasi dengan tidak adanya perubahan partisipasi masyarakat, seperti remaja,  dalam pendidikan sejak era reformasi hingga masa kini. Data Badan Pusat Statistic (BPS) 2010 tentang pendidikan menyebutkan bahwa, terdapat 43.99 % dari total keseluruhan remaja di indonesia yang tidak melanjutkan belajarnya ke bangku SMA.

Kondisi yang memprihatinkan ini tidak terlepas dari tingginya harga dari pendidikan di Indonesia. Kita ambil contoh pada tingkatan sekolah menengah atas, banyak sekali terobosan yang dilancarkan oleh kementrian pendidikan nasional, terutama sejak diberlakukannya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.  Tetapi sayangnya terobosan tersebut sangat tidak merakyat, karena terciptanya konsep-konsep sekolah model baru.  Sekolah-sekolah yang berlabelkan sekolah standar nasional (SSN) atau rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) ataupun sekolah berstandar internasional (SBI) hanya membuat sekolah menjadi konsumsi komoditas tertentu. Perubahan label yang diterapkan oleh sekolah negeri berimplikasi pada perubahan harga pendidikan yang ditawarkan. Sehingga mereka yang sudah terbebani dengan biaya pendidikan sebelumnya malah semakin terbebani dengan adanya perubahan label dari sekolah menengah atas yang ada.

Mengubah secara keseluruhan sistem pendidikan yang tidak merakyat ini adalah tindakan yang tidak produktif, sehingga yang perlu kita fikirkan adalah konsep pendidikan alternatif bagi mereka yang tidak bisa mengenyam pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah saat ini. Pendidikan dengan konsep “Green School” merupakan konsep alternatif untuk memasifkan pendidikan agar pendidikan di indonesia bisa dirasakan oleh semua elemen masyarakat.

Pertama “Green School” harus mampu memfasilitasi siapapun untuk belajar. Cara yang perlu dilakukan adalah dengan membuat sekolah dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Sehingga proses belajar dan mengajar akan berjalan meskipun dengan jumlah siswa yang sedikit. Sebab, pada dasarnya kelompok belajar tidak harus terdiri dari 40 orang siswa seperti persepsi klasik yang berkembang di Indonesia.

Kelompok belajar ini nantinya akan dibina secara “Team Teaching” oleh beberapa orang guru. Guru-guru yang tergabung dalam team teaching untuk mendidik sebuah kelompok belajar tersebut harus mampu menguasai berbagai cabang ilmu. Sehingga siswa yang ada di dalam kelompok belajar ini mendapatkan berbagai ilmu secara umum nantinya. Serta, setiap guru yang mengajar di dalam kelompok ini juga harus memiliki spesialisasi ilmu agar mampu membina siswanya secara mendalam dari segi keilmuan.

Kelompok guru yang terbentuk itu tidak hanya membina satu kelompok belajar, tetapi bisa beberapa kelompok belajar. Hal ini di terapkan untuk meningkatkan efisiensi dalam proses pembelajaran yang terjadi. Jumlah kelompok yang dibina disesuaikan dengan kesanggupan dari team guru yang mengajar, tidak harus dipaksakan sebanyak mungkin.

Lalu, “Green School” juga menyesuaikan dengan kondisi masyarakat dimana kelompok belajar itu berada. Maksudnya,kelompok belajar ini harus membuat sebuah karya yang bermanfaat bagi lingkungan tempat mereka tinggal. Proses pembelajaran dan pembuatan karya ini juga di masukkan ke dalam proses belajar dan mengajar. Contohnya penerapan “Green School” pada lingkungan yang banyak sampahnya. Maka yang perlu ditambahkan adalah pembelajaran tentang pengelolahan sampah atau limbah. Bisa juga mungkin dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial pada masyarakat dimana green school berada. Sehingga “Green School” mampu memberikan manfaat yang memang benar-benar terasa di masyarakat nantinya.

Selanjutnya sekolah dengan konsep “Green School” juga harus menyesuaikan fasilitas pembelajaran dengan kondisi masyarakat tempat kelompok belajar itu berada. Jumlah siswa dalam satu kelompok tidak banyak sehingga fasilitas yang diperlukan tidak sebanyak sekolah sewajarnya. Tempat belajar pun tidak harus di dalam ruangan, jika memang tidak ada ruangan yang bisa digunakan. Alat-alat yang mendukung pembelajaran bisa diganti dengan alat-alat alternatif yang murah atau mungkin dibuat secara manual. Semuanya menyesuaikan dengan kondisi masarakat dimana green school ini berada. Penulis meyakini bahwa esensi dalam proses belajar mengajar itu bukanlah fasilitas pembelajaran yang lengkap, melainkan metode dalam pembelajaran.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan konsep “Green School” ini sesungguhnya sangat sederhana, yaitu konsep pembelajaran yang lebih menekankan pada metode belajar serta kualitas dan kemauan para guru. Fasilitas dan alat-alat pembelajaran adalah pendukung, sehingga ada atau tidak adanya fasilitas maka proses pembelajaran pun akan terus dilaksanakan. Mengapa disebut green school, yaitu karena sekolah ini ramah, ramah dalam masalah biaya, ramah dalam fasilitas belajar, ramah bagi masyarakat dan ramah lingkungan. Dengan demikian, jika beberapa tawaran konsep pendidikan yang diberikan oleh pemerintah tidak mampu meningkatkan angka partisipasi pendidikan remaja, maka keramahan sebagai nyawa konsep “Green School” akan mampu menjadi solusinya.

About these ads