Tags

, , ,

*Tulisan ini diterbitkan di Harian Rakyat Bengkulu di Kolom Opini pada Jum’at 23 Mei 2012.

Tidak ada siswa yang bodoh. Yang ada siswa yang belum menemukan guru yang ideal. Sebuah kalimat yang menginspirasi sekaligus menjadi pengingat bagi para guru masa kini. Mengingatkan juga akan peran penting guru sebagai sosok yang membangun siswa menjadi lebih baik. Dan juga menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa yang akan menjadi guru di kemudian hari.

Fenomena Guru Dulu dan Kini

Fenomena guru yang ada di Indonesia sungguh menarik untuk dibahas secara mendalam. Dahulu, sedikit orang yang mau menjadi guru karena balasan menjadi seorang guru sangat kecil. Teringat lagu Iwan Fals berjudul ‘Guru Oemar Bakri’. Digambarkan pada masa itu, guru hanya mendapat sangat sedikit penghargaan. Mereka bersahaja, memiliki kapasitas, tetapi hanya dibalas dengan gaji pas-pasan.

Guru saat ini berbeda jauh dengan guru di masa itu. Terutama setelah adanya sertifikasi guru yang membuat penghargaan terhadap guru sudah semakin tinggi. Sertifikasi menjadi pendongkrak gaji yang didapat oleh guru masa kini. Pada akhirnya muncul anggapan bahwa menjadi guru adalah salah satu pilhan yang mampu menjamin kehidupan. Kini, banyak orang berlomba-lomba menjadi guru lebih karena jaminan gaji yang menjanjikan ditambah uang pensiunan.

Sangat disayangkan, perlombaan orang-orang untuk menjadi guru saat ini tidak diiringi dengan peningkatan kualitas guru yang ada. Jika dilihat secara keseluruhan, kualitas guru di Indonesia sungguh memprihatinkan. Masih ada guru yang tidak memahami secara mendalam apa yang mereka ajarkan. mereka hanya menjadi guru tanpa kematangan ilmu akan bidang yang diajarkan. Ada juga guru yang matang secara keilmuan, tetapi tidak mampu mentransfernya ke siswa. Akibatnya, guru semakin paham dengan ilmu itu namun siswa malah semakin kebingungan. Entah ada masalah pada cara guru menyampaikan atau faktor lain yang menjadi sebab. Ada pula guru yang hobi memarahi siswanya. Padahal seharusnya, guru memberikan teladan pengajaran tanpa masuk di dalamnya kekerasan kata maupun fisik.

Masih banyak lagi fenomena yang memaparkan kondisi-kondisi menyedihkan para guru. Kondisi seperti inilah yang seharusnya menjadi salah satu fokus pemerintah. Kembali kepada filosofi awal, dibutuhkan guru yang benar-benar bertindak sebagai guru. Agar hasil dari pendidikan yang diterapkan di indonesia kedepan bisa menjadi lebih baik.

Format Guru Ideal

Menjadi guru sempurna memang suatu hal yang tidak mungkin diwujudkan. Kita sadari bersama bahwa fitrah manusia itu lemah dan banyak salah. Tetapi, merumuskan sebuah gagasan tentang guru ideal yang sesuai dengan konteks pendidikan kekinian itu masih memungkinkan.

Pertama, yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah pemahaman ilmu yang mendalam. Seorang guru harus memahami ilmu yang ia ajarkan mulai dari kulit hingga akar dari ilmu tersebut. Pemahaman yang mengakar ini sangat diperlukan dengan tujuan agar tidak terjadi salah pemahaman pada siswa. Hal ini juga agar bisa memfasilitasi siswa yang memang memiliki kapasitas belajar yang lebih tinggi dari yang lain.  Cara yang paling kongkrit untuk memenuhi kriteria ini adalah dengan terus mempelajari bagian ilmu yang akan guru ajarkan. konsep yang sederhana, menggali dan memberi ilmu.

Ilmu yang mendalam saja tidak cukup. Hal kedua yang tidak kalah penting yakni seni dalam pengajaran. Seni pengajaran memudahkan transfer keilmuan yang dimiliki oleh guru ke siswa-siswanya. Banyak guru yang pintar secara keilmuan, tetapi tidak mampu mengkomunikasikan ilmu yang ia miliki pada para siswanya. Ini menjadi kritik tersendiri bagi para guru. Sehingga sangat perlu seorang guru untuk juga mempelajari cara mentransfer ilmu tersebut.

Ketiga, pemahaman akan psikologi siswa. Tidak bisa dipungkiri, siswa dalam jenjang yang berbeda memiliki kondisi psikologis yang berbeda pula. Pada masa remaja misalnya (jenjang SMP-SMA). Remaja merupakan fase yang memerlukan perhatian khusus. Ahli psikologi anak dan remaja, Ericson (1902-1994), mengatakan bahwa pada masa remaja manusia berada di tengah kebingungan mencari identitas diri. Sehingga banyak hal-hal unik yang dilakukan oleh para remaja pada fase ini. Dari sini perlu diperhatikan bahwa, untuk menghadapi fenomena remaja, guru harus mampu memahami psikologi mereka. Pemahaman ini akan membuat guru bijak dalam mengambil sikap yang tepat terhadap perilaku remaja atau siswa di kelas.

 

Suplemen Guru Ideal

Format guru ideal merupakan gagasan besar untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Gagasan ini akan menjadi ideal jika dilengkapi dengan suplemen yang mendukung.

Seorang guru harus melek terhadap teknologi, informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini tidak bisa dipungkiri karena TIK mampu mengefisienkan proses pembelajaran yang ada di kelas. Bukan hanya itu, TIK membantu guru memberikan pola pembelajaran baru bagi siswa di kelas. Hal ini akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.

Selanjutnya, seorang guru juga harus memiliki beberapa tipe pemikiran di luar dari subjek pengetahuan yang ia bidangi. Pemikiran kritis, kreatif dan inovatif seharusnya menjadi suplemen pemikiran para guru saat ini. Ketiga pemikiran ini akan membuat seorang guru menjadi lebih bermakna, progresif dan dinamis pada saat mengajar di kelas.