Tags

, , , ,

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan terutama dalam bidang pendidikan. Untuk menempuh jejang pendidikan hingga masuk ke jenjang pendidikan tinggi saat ini begitu sulit. Hal ini salah satunya dikarenakan tingginya harga dari pendidikan itu sendiri. Masyarakat Indonesia, terutama masyarakat menengah kebawah, masih banyak yang belum mampu menjangkau harga pendidikan yang ditawarkan oleh Perguruan Tinggi Negeri, apalagi Perguruan Tinggi Swasta. Sehingga untuk membeli pendidikan itu sendiri, masyarakat masih berfikir dua kali karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah, maka pendidikan yang menjadi korban sehingga tidak terlaksananya proses tersebut di masyarakat.

Dengan kondisi seperti ini, maka mulai muncul yayasan-yayasan yang menawarkan trobosan baru dibidang pendidikan untuk masyarakat menengah kebawah. Program yang mampu memfasilitasi masyarakat yang kurang dari segi ekonomi untuk melanjutkan pendidikannya. Program yang memberikan fasilitas pendidikan secara gratis dan seolah-olah tanpa meminta balas jasa apa-apa. Program yang covernya adalah kegiatan sosial yang secara gambalang masyarakat akan sangat mudah menerimanya. Sehingga banyak masyarakat menerima program ini dengan tangan terbuka. Dan program inilah yang kebanyakan masyarakat mengenalnya dengan nama BEASISWA.

Dari sinilah mulai terjadi penyimpangan-penyimpangan dengan program tersebut. Ada beberapa yayasan yang menawarkan Beasiswa dengan sistem yang lumayan menarik. Skema yang diterapkan oleh yayasan ini adalah dengan membantu pendanaan dari perkuliahan mahasiswa diawal dengan syarat setelah menyelesaikan kuliah akan ada sumbangan yang diberikan oleh para penerima bantuan untuk yayasan. Jadi seperti ini, setelah menyelesaikan kuliah dan sudah bekerja, mereka yang menerima bantuan tadi diharapkan untuk menyetor beberapa persen dari gajinya untuk yayasan yang telah membantu.

Secara umum hal ini terkesan sangat mulia dari kedua sisi, dimana kebaikkan yang diberikan oleh yayasan kepada para penerima bantuan, dan kebaikkan para penerima bantuan nantinya untuk yayasan. Tidak ada celah untuk menyanggah bahwa program kegiatan ini memang sungguh sangat mulia. Tetapi ketika kita sedikit memikirkan hal ini secara mendalam, maka disinilah terdapat kekeliruan dan hal inilah yang menjadi masalah besar, yaitu komersialisasi pendidikan.

Sedikit mengutip definisi komersialisasi di dalam kamus besar bahasa Indonesia, bahwa komersialisasi adalah proses transformasi sesuatu menjadi barang yang memiliki nilai jual atau bisa dibilang barang dagangan. Konteks menguntungkan disini biasanya diartikan dengan keuntungan semaksimalnya. Disinilah permasalahan mulai terjadi karena pendidikan hanya dijadikan alat untuk meraih keuntungan saja.

Selanjutnya, ketika kita kaji dari sisi penerima bantuan, dari sini terlihat bahwa sebenarnya mereka yang menerima bantuan itu sesungguhnya hanya seolah-olah menerima bantuan, karena nanti dikemudian hari mereka harus membayar apa-apa yang telah diberikan. Walau nanti ada yang akan membayar lebih dan ada juga yang membayar kurang, yang jelas apa-apa yang diberikan itu tidak gratis sepenuhnya.

Lalu ketika kita kaji dari sisi yayasan yang memberikan beasiswa, maka mereka secara tidak langsung telah mempromosikan dirinya, meninggikan nilai tawarnya dan telah merebut simpati masyarakat dengan cara gratis. Sehingga disinilah letak kebengkokan yang ada pada system yang ditawarkan oleh beberapa yayasan.

Menyikapi hal tersebut, maka mari kita sama-sama TOLAK bentuk komersialisasi pendidikan model baru ini, yaitu komersialisasi pendidikan berbentuk beasiswa. Jangan pernah mau dibohongi oleh kemudahan semu yang ditawarkan, karena prinsip yang biasa mereka bangun adalah “tidak ada yang gratis di dunia ini”. Seperti ini lah potret kelam pendidikan di Indonesia.