Tags

, , , ,

Tinjauan Ilmiah mengenai Komponen kepemimpinan Muhammad saw dari sisi Pengembangan Sumber Daya Manusia.

“Sesungguhnya keberadaan manusia di dunia ini tidak lain adalah untuk menjadi seorang pemimpin”

Ketika berbicara tentang siapa pemimpin, maka yang akan ada di dalam benak pemikiran masing-masing orang adalah seseorang yang memiliki kedudukan tertinggi di dalam lingkungan yang dia geluti. Ketika hal tersebut dibicarakan pada seorang guru yang berada pada lingkungan sekolah, maka yang akan muncul adalah kepala sekolah yang memimpin sekolah tersebut. lain hal ketika ditanyakan pada karyawan sebuah perusahaan, yang terbayang di dalam pemikirannya adalah manager atau pimpinan perusahaan dimana dia bekerja. Berbeda pula dengan anggota sebuah organisasi atau lembaga, ketika ditanyakan tentang siapa pemimpin, maka yang terlintas dalam pemikirannya adalah pimpinan organisasi atau lembaga yang dia ikuti. Atau ketika ditanyakan kepada warga dari sebuah daerah, maka yang akan timbul adalah bayangan kepala daerahnya. Banyak persepsi yang muncul ketika ditanyakan tentang Pemimpin kepada banyak orang yang dari latar belakang yang berbeda. Jika ditarik kesimpulan, maka pemimpin ialah seseorang yang memiliki kedudukan tertinggi dan memiliki kekuatan dalam menentukan sebuah keputusan dalam ruang lingkup dimana ia memimpin.

Dalam berinteraksi dengan pemimpin, yang masing-masing kita memiliki pemimpin yang berbeda, pemberian pendapat terhadap mereka yang memimpin sudah pasti tidak dapat di hindari. Pemberian penilaian dengan sendirinya akan muncul, suara-suara tentang karakter kepemimpinannya akan tampak, pendapat tentang hasil kerjanya juga akan berdatangan. Ambil contoh, dalam sebuah artikel di majalah Dialog Volume 1, di kolom warisan, di sebutkan bahwa “Kunci keberhasilan kepemimpinan Jenderal sudirman adalah terletak pada kemampuannya dalam memberikan contoh dan keteladanan”. itu salah satu contoh pendapat orang-orang terhadap kepemimpinan pemimpinnya. Hal ini bisa kita jadikan landasan untuk membentuk sebuah definisi bahwa, kepemimpinan itu adalah bagaimana cara seorang pemimpin mempengaruhi orang – orang yang dipimpinnya. Sehingga pengaruh itu yang menjadikan orang-orang yang dipimpin tadi dapat memberikan pendapat atau penilaian. Semakin baik cara seseorang mempengaruhi orang lain, maka akan semakin sejuk juga hembusan suara – suara yang datang, dan hal tersebut akan berlaku juga dengan sebaliknya. Definisi ini juga sejalan dengan beberapa literature yang berbicara tentang kepemimpinan.

Selanjutnya, ada sebuah buku yang lumayan banyak mengandung kontroversi akan keberadaan serta isinya. Buku tersebut merupakan karya dari Michael H. Hert yang berjudul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Di dalam buku tersebut, Hert (1978) menyebutkan bahwa dasar pemikiran dia membuat urutan seratus tokoh tersebut adalah dengan melihat pengaruh dan peran tokoh-tokoh tersbut dalam perubahan peradaban manusia. Di dalam bukunya Hert (1978) mencatumkan Nabi Muhammad saw sebagai Tokoh yang paling berpengaruh dalam peradaban dunia saat ini. Jelas hal tersebut memiliki landasan ilmiah yang kuat, serta menggunakan metode yang bisa dipertanggungjawabkan walau banyak mengandung perdebatan.

Berkaitan dengan hal tersebut, ketika dikaitkan antara buku karangan Michael H. hert dengan definisi kepemimpinan yang sudah dijabarkan sebelumnya, maka buku ini memiliki korelasi yang kuat. Kepemimpinan adalah cara mempengaruhi orang, sedangkan buku karangan Hert adalah tentang orang yang paling berpengaruh di dunia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kita dapat mempelajari seni mempengaruhi orang dari orang no satu di buku tersebut. atau secara gamblang dapat dibilang bahwa kita dapat mempelajari tentang Kepemimpinan dari orang no satu di dalam buku tersebut, yang tidak lain adalah nabi Muhammad saw, nabinya umat islam.

Sehingga dalam penulisan karya tulis ini, penulis akan mencoba menjabarkan secara ilmiah tentang Komponen kepemimpinan yang diterapkan oleh Muhammad saw pada zamannya. Penulis menyebut hal ini dengan istilah Kepemimpinan Profetik, yang di artikan secara tekstual sebagai kepemimpinan yang berlandasakan pada sifat-sifat kenabian, yang dalam hal ini adalah sifat-sifat yang ada pada Muhammad saw.

Memimjam istilah Rijalul Imam (2010) dalam bukunya Quantum Leadeship of King Sulaiman, bahwa kepemimpinan profetik merupakan pola kepemimpinan yang diformulasikan dari kisah yang penuh dengan hikmah ke dalam konsep ilmiah yang relevan untuk diaplikasikan di era kontemporer saat ini. Lebih sederhananya dapat didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengambil sumber dari hikmah sejarah yang relefan dengan kondisi saat ini.

Dalam mendefinisikan kepemimpinan Profetik secara kontekstual, yang harus diperhatikan adalah penggalan tiap-tiap kata definisi sederhananya. Jika dilihat kembali, yang pertama, kepemimpinan profetik itu mengambil sumber berupa hikmah sejarah. Yang menjadi rujukan di dalam penulisan karya tulis ini adalah sejarah kepemimpinan Muhammad saw melalui buku sejarah Muhammad saw. Nantinya penulis akan menyarikan pokok-pokok kepemimpinan yang telah di lakukan oleh Muhammad saw pada masanya ketika beliau akan membangun sebuah peradaban besar.

Lalu kedua, yang perlu menjadi perhatian kita, kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang relefan dengan kondisi saat ini.

Ketika berbicara tentang kondisi pemuda saat ini, maka sedikit mengutip pidato Mentri Pemuda dan Olahraga kita, Dr. Andi. A Mallarangeng, “Negara mengharap Anda (pemuda) peduli pada masyarakat, lingkungan dan nasib bangsa ke depan. Lalu capaian yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya, sehingga bangsa ini  berkembang, memiliki daya kompetisi di jaringan global. Dan memang perlu ada orang-orang intelektual, yang memikirkan bagaimana proses bangsa ini menjadi. Dan Saya ingin Pemuda mewujudkan Mimpi-Mimpi Indonesia ini”.

Jika disarikan kedalam sebuah kalimat, maka penulis membuatnya menjadi, yaitu Indonesia perlu Pemuda yang Memasyarakat, solutif, dan berkelanjutan. Sehingga dalam konteks karya tulis ini dengan dilandaskan pada definisi yang telah ditetapkan diawal serta keadaan atau kondisi yang terjadi saat ini, maka secara sederhana penulis mendefinisikan Kepemimpinan Profetik sebagai Pola kepemimpinan yang memasyarakat, solutif, dan berkelanjutan yang subjeknya adalah pemuda dan kesemua pola tersebut didasarkan pada Hikmah Sejarah kepemimpinan Muhammad saw dalam pengembangan SDM.

Dari definisi Kepemimpinan profetik secara kontekstual, penulis akan menjabarkan dan mendifinisikannya secara lebih terperinci. Kepemimpinan bisa diartikan dengan bergerak dan berupaya memberikan arti dan mempengaruhi lingkungannya (Tasmara, 2002). Disini artinya bisa diperluas menjadi kemajuan dalam pergerakkan yang kita lakukan yang dimana kemajuan tersebut memiliki arti yang mendalam yang nantinya akan memberikan pengaruh dimanapun keberadaannya.

Selanjutnya memasyarakat, hal ini bisa diartikan dengan sifat yang  bisa menyentuh seluruh elemen masyarakat. Seorang pemimpin harus memperluas pergaulan kepada kalangan masyarakat menengah ke bawah (Imam, 2010). Karena memang terkadang posisi pemimpin yang berada di puncak terkesan sangat jauh dan susah dijangkau oleh masyarakat bawah, sehingga disini dibutuhkan peran aktif dari pemimpin itu untuk turun dan menyentuh semua elemen yang ia pimpin.

Lalu solutif, yang dapat diartikan adalah sifat yang membawa hasil yang positif. Fitron Nur Ikhsan (2009) di dalam bukunya Mencurigai kekuasaan menyebutkan bahwa kepemimpinan itu harus menjadi solusi bukan masalah baru. Solusi adalah pemecahan dari sebuah masalah yang merupakan sebuah hasil positif. Sehingga Pemimpin harus membawa atau menghasilkan suatu hal yang positif bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Kemudian, berkelanjutan yang  maksudnya adalah sifat yang tidak berhenti dan terus menerus. Seorang manusia yang memiliki etika yang baik dalam bertindak adalah ia yang melaksanakan suatu hal itu secara berkesinambungan atau terus menerus (Tasmara, 1994). Begitu juga dengan kepemimpinan, yang harus di lakukan oleh seorang pemimpin adalah bagaimana usaha dalam pencapaian visinya tetap berbergerak nantinya walau kepemimpinannya sudah tidak ada lagi.

Lalu terakhir, sebuah peradaban besar diperjuangkan oleh para pemuda-pemuda pejuang, oleh karena itu di dalam pernyataannya Bung Karno mengatakan bahwa berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia. Begitu besar potensi yang dimiliki oleh pemuda, sehingga tokoh besar tersebut sangat menghargai kekuatan dan kehebatan dari pemuda. Bukan hanya itu, di dalam UU No 40 tentang Kepemudaan disebutkan bahwa, salah satu tujuan Pembangunan kepemudaan adalah terwujudnya pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan. Jelas sudah bahwa sangat dibutuhkan sosok Pemuda pemimpin hal ini sudah pasti dikarenakan oleh potensi yang dimiliki oleh pemuda. Maka dari itu subjek atau yang akan menjadi peran dalam kepemimpinan profetik ini adalah pemuda karena mereka memiliki potensi sangat besar yang nantinya akan membuat Kepemimpinan itu mendekati sifat-sifat kenabian yang merupakan harapan dari penulis.

Sehingga dari Penjabaran di atas tentang definisi kepemimpinan profetik, maka tulisan-tulisan selanjutnya merupakan hasil analisis akan komponen-komponen kepemimpinan profetik tersebut dengan pendekatan hikmah sejarah kepemimpinan Muhammad. Penjabaran di atas lebih mengarah ke sifat-sifat yang akan muncul atau yang ingin dicapai nantinya ketika kepemimpinan profetik ini diterapkan. Maka dari beberapa sifat yang telah dijabarkan dari definisi awal lalu dikaitkan dengan konteks kepemimpinan saat ini, maka penulis membuat simpulan :
– Memasyarakat dibentuk melalui Komponen Kepemimpinan yang Komunikatif
– Solutif dibentuk melalui Komponen Kepemimpinan yang memiliki Makna
– Berkelanjutan dibentuk melalui Komponen Kepemimpinan yang Disertai Pembinaan

Masing-masing dari Komponen kepemimpinan ini akan menjadi sub pembahasan utama, sehingga yang diharapkan nantinya agar penjabarannya lebih terstruktur dan detail. Komponen kepemimpinan yang dijabarkan diatas merupakan turunan serta satu kesatuan rangakaian komponen dari Kepemimpinan Profetik yang tidak bisa dipisahkan.

 

Bersambung…