Tags

, , , , , , ,

Lanjutan….

  • Kepemimpinan yang Komunikatif

Apa jadinya jika Muhammad saw jika tidak menyebarkan dan mengomunikasikan pemahaman yang ia bawa ke masyarakat di mekah? Jelas, tidak akan ada pengikutnya. Lalu apa jadinya juga jika seorang Muhammad saw serta pengikutnya tidak berkomunikasi dengan daerah lain diluar mekah ketika orang-orang Quraisy akan membunuh mereka? Serta Apa jadinya Umat Islam saat itu jika Muhammad saw tidak menyampaikan perintah Hijrah? Mungkin saja tidak sebanyak ini umat islam.

Maka ketika dipelajari hal tersebut serta dikaitkan dengan konteks kekinian, maka ada beberapa tindakan yang seharusnya dilakukan oleh pemuda ketika menjadi seorang pemimpin. Tindakan-tindakan kritis yang mencerminkan Komponen Kepemimpinan yang komunikatif yang sangat erat kaitannya dengan pembinaan Sumber Daya Manusia untuk meningkatkan kualitas pemuda Indonesia.

Pertama Seorang Pemuda pemimpin harus mampu mengkomunikasikan ide-ide atau gagasannya tentang visi yang akan dia perjuangkan untuk bangsanya. Gagasan tentang visi inilah yang nantinya akan menentukan arahan pemimpin mengambil sebuah posisi, lalu memformulasikan tujuannya, serta mengarahkan tindakan dan perilakunya menuju tujuan yang telah kita tentukan (tasmara, 2002). Sehingga ketika seorang pemimpin mampu membuat orang-orang yang dipimpinnya / kelompoknya mengetahui apa-apa gagasan tentang visinya, maka nanti mereka yang akan mendorong kepemimpinan tersebut.

Komunikasi yang di lakukan pemimpin adalah bagian dari seni mempengaruhi, yakni membangun rasa percaya diri orang-orang yang dipimpinnya (Imam, 2010). maka disinilah letak pentingnya komunikasi, karena dengan komunikasilah nantinya orang-orang yang dipimpin tersebut atau kelompok terpengaruh oleh pemimpinnya dan dari sini juga Ia membangun rasa kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya atau kelompoknya terhadap dirinya.

Al Mubaraqfury (2007) mengatakan :

“Sangat Lumrah ketika Muhammad saw menampakkan islam pada awal mulanya kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarganya dan sahabat-sahabat karibnya. Beliau menyeru mereka kepada islam, juga menyeru siapapun yang dirasa memiliki kebaikkan…”

Mengambil hikmah dari potongan cerita tersebut bahwa yang dilakukan oleh Muhammad adalah mengkomunikasikan gagasan visinya ke orang-orang terdekat secara personal atau langsung, karena memang nantinya mereka yang akan ikut mendukung pencapaian visi tersebut. Maka seperti itu juga seharusnya pemimpin saat ini, yaitu mereka harus mendapat dukungan dari keluarganya , teman-temannya dan orang –orang dekatnya dengan cara mengkomunikasikan gagasan visi kepada mereka semua. Sehingga nantinya hasil yang diharapkan adalah sama seperti yang terjadi pada Muhammad saw.

Lalu ketika kita tarik konteks komunikasi ke dalam ranah media serta pemuda pemimpin saat ini, maka salah satu bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memberikan informasi atau pemahaman tentang gagasan visi pemimpin adalah dengan menulis. Menulis di buletin organisasi, media cetak, ataupun media elektronik. Menulis dapat menghemat energi untuk mengkomnikasikan gagasan visi ke orang-orang atau kelompok yang dipimpin. Kita juga bisa menghemat waktu, serta hal ini menjadi lebih efektif ketika nanti ada orang-orang lain yang diluar kepemimpinan ikut mengetahui tulisan yang dibuat dan secara tidak langsung pemimpin tersebut mempengaruhi mereka.

Sehingga targetan komunikasi kesemua elemen ini secara tidak langsung adalah penguatan internal orang-orang yang dipimpin oleh pemimpin muda tadi. Hal ini menjadi sangat penting, karena seperti yang telah di jelaskan sebelumnya bahwa, internal kelompok itulah yang akan membantu menguatkan kepemimpinan Pemimpin kelompok tersebut.

Lalu yang kedua adalah Pemuda pemimpin harus mampu membangun kemunikasi ke berbagai kelompok lain. Dalam hubungannya dengan manusia lainnya di luar kelompoknya, maka perlu dikembangkan kemampuan dirinya untuk terampil secara sosial. Karena nantinya jalinan hubungan tersebut akan menimbulkan kehangatan, sehingga mampu berempati dan memahami serta saling menghargai perbedaan kelompoknya (Tasmara, 2002). Sehingga dari jalinan hubungan tersebut akan timbul sebuah kekuatan eksternal suatu kelompok dengan kelompok lain.

Coba perhatikan bagaimana Muhammad membangun komunikasi ke berbagai individu, kabilah (kelompok) serta daerah sebelum mereka hijrah atau berpindah. Komunikasi dengan kelompok lain jugalah yang nantinya membuahkan terjadinya hijrah. Sedikit melihat effek komunikasi yang dilakukan oleh duta islam pertama yang diutus Muhammad saw ke Yastrib (madinah) yaitu Mus’ab bin Umair.

Al-Mubaraqfury (2007) menyebutkan bahwa :

Dalam tugasnya ini ada kalanya beliau (Mus’ab) pernah diserang oleh orang musyrik, mengangkat tombak mengancam jiwanya, tetapi tidak ada apa yang dilakukan oleh Mus’ab untuk mempertahankan dirinya kecuali dengan membaca beberapa potongayat Al Qur’an serta menyebut beberapa hukum-hukum Islam. Dengan lemah seteru yang menyinga itu meletakkan senjatanya dan terus mengikuti kuliah Islam yang diberikan oleh Mus’ab itu. Dengan itu agama Islam pun mula berkembang dengan pesatnya di Madinah di mana agama Islam menjadi buah mulut dan maudhu’ (tajuk) perbincangan hangat kepada setiap lapisan masyarakat.

Sehingga bentuk komunikasi yang kedua ini menunjukkan bahwa Pemuda Pemimpin seharusnya juga melakukan penguatan eksternal yaitu dengan cara membangun hubungan ke kelompok lain. Karena ketika nantinya kelompok yang di pimpinnya mengalami permasalahan, maka bisa saja eksternal tadi yang akan membantu menguatkan kembali.

Sehingga Komunikasi ke dalam kelompok akan menjadikan kepemimpinan kuat secara internal serta komunikasi ke kelompok lain akan menjadikan kepemimpinan kuat secara eksternal. Hal ini lah yang akan mengokohkan kepemimpinan dan ketika hal ini di terapkan juga dalam kepemimpinan Profetik maka di harapkan akan menjadi komponen yang menopang kepemimpinan profetik itu.

 

Bersambung…