Tags

, , , , , ,

 

Lanjutan…

  • Kepemimpinan yang Disertai Pembinaan 

Di dalam buku-buku Biologi disebutkan bahwa regenerasi adalah proses menghasilkan individu baru yang satu jenis. Proses ini merupakan salah satu cara hewan untuk mempertahankan keberlangsungan jenisnya dimuka bumi ini. Proses yang bisa dikatakan merupakan proses yang sangat vital dan hal ini harus terjadi demi keberlangsungan.

Mungkin kita juga pernah mendengar juga bahwa ada hewan yang hampir punah, Makanya harus dipelihara di suaka marga satwa. Hal ini terjadi karena lambatnya proses regenerasi yang terjadi pada hewan tersebut. Sehingga tingkat mortalitas cenderung lebih tinggi dari pada tingkat natalitas yang mengakibatkan penurunan jumlah waktu demi waktu.

Lalu ketika kita masukkan regenerasi dengan konteks yang kita bicarakan saat ini, maka diperlukan juga proses regenerasi kepemimpinan. Konteks regenerasi disini jika kita kaitkan dengan proses regenerasi yang dibicarakan sebelumnya adalah proses penyiapan pemimpin baru yang memiliki visi satu arah dengan pemimpin sebelumnya. Sehingga proses kepemimpinan profetik yang diharapkan akan terus berlangsung hingga nanti akan membawa perubahan dengan visi yang satu.

Dari sini penulis menyimpulkan bahwa sangat diperlukan proses regenerasi ini dalam kepemimpinan, sehingga proses ini penulis masukkan didalam komponen kepemimpinan profetik yaitu kepemimpinan yang membina.

Coba kita lihat bagaimana Muhammad saw menerapkan hal ini kepada para sahabatnya. Al Mubaraqfury (2007) mengatakan bahwa selama tiga tahun penyampaian risalah yang dibawa muhammad saw secara sembunyi-sembunyi, telah terbentuk kelompok-kelompok orang yang menyakini risalahnya yang mereka senantiasa tolong menolong didalamnya.

Dalam kepemimpinannya, Muhammad menerapkan pola pembinaan dengan system kelompok-kelompk diskusi yang disana mereka saling berbagi ilmu. Di forum ini juga Muhammad mentransfer visi yang dia bawa. Lalu di forum ini juga lah beliau membina talenta kepemimpinan orang-orang yang akan terus membawa visinya.

Begitu juga dengan kepemimpinan Profetik, yang diperlukan adalah regenerasi dengan proses transfer ilmu dan visi serta proses diskusi melalui kelompok-kelompok. Secara konteks kekinian, seorang pemuda pemimpin harus memiliki orang-orang yang siap dibina. Dalam satu kelompok jangan terlalu banyak orang. Lebih baik terdapat banyak kelompok dari pada di dalam satu kelompok terdapat banyak orang. Lalu proses pembinaan terhadap kelompok tadi harus dilakukan rutin. Sehingga akan terjadi effektifitas dalam pembinaan nantinya.

Applikasi Pola kepemimpinan ini adalah, misalnya ada pemimpin suatu kelompok, pemimpin tersebut harus membina orang-orang yang ada di kelompoknya agar nantinya ada yang meneruskan ia menjadi pemimpin bagi kelompoknya. Kita lihat lagi direktur sebuah perusahaan. Agar keberlangsungan kepemimpinan perusahaannya, direktur tersebut harus melakukan pembinaan terhadap orang-orang perusahaannya agar nantinya jika dia sudah tidak ada, maka aka nada direktur baru yang menggantikan. Begitu juga dengan kelompok-kelompok lainnya, hal ini bisa diterapkan dan disesuaikan dengan kondisi kolompok masing-masing.

Dan kepemimpinan yang disertai dengan pembinaan ini nantinya akan menjadi salah satu komponen vital dalam Kepemimpinan profetik yang ditawarkan penulis. Tanpa membina kelompok-kelompok yang dipimpin akan mati sehingga jika tidak ada orang yang dipimpin maka percuma juga ada pemimpin. Pemimpin ada karena ada orang-orang yang dipimpin dan untuk mempertahankan orang-orang tersebut harus ada regenerasi dan regenerasi itu bisa diwijudkan dengan Pembinaan di dalam kelompok-kelompok.

 

Akhirnya atas dorongan sebuah keyakinan pada perubahan positif, maka diperlukannya sebuah model kepemimpinan yang memiliki visi kearah tersebut. Model kepemimpinan yang didasarkan pada kepemimpinan yang pernah terjadi sehingga hikmah-hikmah sejarah tersebut bisa difromulasikan untuk diaplikasikan pada kepemimpinan kontemporer saat ini.

Muhammad saw merupakan tokoh yang model kepemimpinannya patut untuk dicontoh. Pengambilan hikmah dari model kepemimpinannya merupakan suatu tindakan yang bijak. Sehingga diformulasikanlah Model kepemimpinan Profetik yang bersifat memasyarakat, solutif dan berkelanjutan, yang melahirkan komponen-komponen Kepemimpinan yang komunikatif, Kepemimpinan bermakna dan kepemimpinan yang membina yang semua komponen kepemimpinan ini dilakukan oleh pemuda yang sudah tidak diragukan lagi potensinya. Tiap – tiap komponen ini yang nantinya bersinergi dan menghasilkan model Kepemimpinan profetik yang penulis harapkan.

Pada Model Kepemimpinan Profetik, Pemimpin dituntut untuk memiliki komunikasi ke dalam kelompoknya dan ke kelompok lain dengan baik, yang tujuannya adalah pengutan internal kelompok dan eksternal dengan kelompok lain. Karena hal ini yang menjadi sifat solid kepemimpinan Profetik. Selanjutnya Pemimpin diharuskan memiliki visi melangit yang didorong oleh keyakinan yang kuat, didasarkan pada pengetahuan dan diiringi dengan kontribusi nyata di masayrakat sehingga akan muncul tangga-tangga dari dalam bumi menuju ke langit demi menggapai visi itu. Dan hal ini lah yang akan membuat kebermaknaan sebuah kepemimpinan. Serta yang terakhir adalah sebuah keberlanjutan dari kepemimpinan karena sebuah visi yang besar, membutuhkan waktu yang lama dalam menggapainya dan panjang nya waktu ini menjadi dalil bahwa diperlukan kepemimpinan yang memiliki visi yang searah dengan visi kepemimpinan sebelumnya. Sehingga visi tersebut bisa menjadi sebuah realitas, bukan hanya impian belaka yang nantinya akan membawa perubahan bagi bangsa serta memberikan pembangunan yang berkelanjutan.

 

 

 

Sumber

Buku :

Al-Mubaraqfury, Shafiyyurrahman. (2007). Sirah Nabawiyah. Pustaka Al kautsar : Jakarta

Hart, Michael H (1982). Seratus Tokoh yang paling Berpengaruh dalam Sejarah. Dunia Pustaka Jaya : Jakarta

Imam, Rijalul. (2010). Quantum Leadership of King Sulaiman. Deputi Pengembangan Kepemimpinan Pemuda dan Olahraga : Jakarta

Ikhsan, Fitron Nur (2009). Mencurigai Kekuasaan. Global Media Profetika : Jakarta

Tasmara, Toto (2002). Membudayakan Etos kerja Islami. Gema Insani Press : Jakarta

Tasmara, Toto (1994). Etos Kerja Pribadi Muslim. Dana bakti wakaf : Yogyakarta

 

Majalah :

Dialog Vol. 1 Tahun 2010

Dialog Vol. 2 Tahun 2010