Tags

, , , , ,

Lanjutan…

Selanjutnya masuk ke dalam pembahasan tentang lingkungan sekolah. Santrock (2003) mengibaratkan sekolah sebagai salah satu lingkungan yang bagus bagi perkembangan moral remaja. Lingkungan disini lebih ditekankan pada anggota sekolah dan kebijakan sekolah sehingga pendidikan moral yang akan dibahas ini, lebih ditekankan pada poin tersebut dalam membentuk moral remaja.

Metode yang digunakan adalah metode pengajaran moral, dan metode mengajar dengan nilai-nilai moral. Metode-metode ini telah diteliti oleh Gary D. Fenstermacher, Professor di Universitas Michigan, beserta kedua asistennya Richard D. Osguthorpe dan Matthew N. Sanger.

Dalam penilitiannya, mereka mengamati dua sekolah yang menggunakan metode berbeda dalam membina moral para siswanya dikarenakan perbedaan latarbelakang dari kedua sekolah itu. Sekolah pertama, mereka sebut dengan K-5, menggunakan metode pengajaran mengenai moral. Metode ini menekankan pada teori-teori untuk memberikan pemahaman moral kepada siswa. Disekolah K-5 ini, pembelajaran moral dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Selain itu juga terdapat program-program pembinaan tentang kejujuran, empati, toleransi, kerjasama, dan lain-lain yang menunjang pengembangan moral siswa. Lalu sekolah yang kedua, mereka sebut dengan K-8, menggunakan metode pembinaan moral dengan menanamkan nilai-nilai moral dalam setiap interaksi yang terjadi dengan siswa. Metode ini lebih menekankan pada praktik dan pemberian contoh sehingga siswa beserta masyarakat sekolah terbiasa dengan perilaku-perilaku yang bermoral. Membiasakan penerapan nilai-nilai moral diharapkan bisa menciptakan siswa-siswa yang memiliki pribadi bermoral. Setelah mengamati dan mewawancarai berbagai pihak di kedua sekolah, mereka menyimpulkan bahwa penanaman nilai-nilai moral melalui interaksi dan pemberian contoh secara langsung itu baik. Tetapi mereka juga menambahkan bahwa ada baiknya jika ada hal lain yang membantu berjalannya metode itu, seperti pembelajaran tentang moral itu sendiri (Fenstermacher, Osguthorpe, & Sanger, 2009).

Dari hasil penelitian yang dijelaskan diatas, dapat kita simpulkan bahwa salah satu metode pembinaan remaja di lingkungan sekolah adalah dengan menerapkan nilai-nilai moral dalam setiap interaksi antar anggota sekolah yang diiringi dengan pengajaran nilai-nilai moral yang membantu interaksi tersebut. Sehingga nantinya dengan penerapan metode ini, diharapkan terbentuknya remaja-remaja dengan kepribadian yang bermoral.

Salah satu bentuk penerapan metode pembentukkan moral dengan pengajaran adalah Pelajaran nilai-nilai moral seperti yang diterapkan oleh Negara Singapura, yang dijelaskan oleh Nur Arifah (2010) dalam tulisannya. Dalam kebijakannya, Singapura mewajibkan pelajaran ini untuk semua sekolah baik negeri maupun swasta. Kebijakan atas pelajaran nilai-nilai moral tersebut cukup mempengaruhi aspek kehidupan remaja Singapura. Bentuk lainnya adalah dengan mengimplementasikan pendidikan moral ke sistem sekolah (Slavin, 2008). Realisasinya adalah dengan membuat suatu peraturan tentang standar moral yang harus dipatuhi oleh seluruh perangkat sekolah dan menciptakan pelajaran atau pembinaan khusus moral bagi siswa. Dan juga bentuk kebijakan lainnya, yang masih sangat banyak jika diteliti dan diamati lebih jauh. Yang apapun bentuknya ini memiliki tujuan untuk menciptakan remaja-remaja yang bermoral.

Sedangkan bentuk penerapan metode pembentukan moral dengan menanamkan nilai-nilai moral ketika berinteraksi adalah ketika guru mengajar. Guru memiliki peran penting dalam perkembangan moral remaja dimana dari sejak taman kanak-kanak hingga kuliah seorang remaja akan berinteraksi dengan guru (Zulkarnaen, 2010). Guru juga memiliki pengaruh penting di dalam kelas, yaitu menciptakan iklim kelas dan sebagai model moral bagi remaja yang diajar (Santrock, 2003). Sehingga interaksi yang cukup sering dan kekuasaan yang dimiliki guru di dalam kelas secara tidak langsung menciptakan proses interaksi dengan memasukkan nilai-nilai moral yang nantinya bertujuan membentuk moral para remaja.

Sehingga metode pengajaran nilai-nilai moral dan metode mengajar dengan nilai-nilai moral merupakan kesatuan yang seharusnya tidak dipisahkan dalam penerapannya. Metode ini mampu menciptakan suasana sekolah yang diharapkan bisa membentuk kepribadian para remaja lebih bermoral. Poin positif ini bisa diambil dan mengapa tidak mulai dicobakan metode ini ke dalam lingkungan sekolah.

Lalu pembahasan yang terakhir yaitu ketika seorang remaja mengetahui dan memasuki lingkungan baru seperti kelompok teman. Disini remaja akan lebih senang jika mereka membuat lingkungan  lebih kecil atau bisa kita sebut kelompok teman sebaya, atau terkadang konotasi negatifnya orang-orang bilang sebagai geng. Pembentukkan kelompok-kelompok kecil ini  tidak bisa dielakkan karena sudah menjadi prinsip dasar dari ilmu sosial (Henslin, 2007). Selain itu pembentukan kelompok kecil ini juga biasanya dilandasi kepada kesamaan visi dari setiap remaja (Wulansari, 2009). Para remaja tersebut merasa memiliki cara yang sama untuk mencapai tujuan sehingga mereka melakukannya secara bersama-sama. Sehingga terbentuklah kelompok-kelompok kecil ini dan menjadi lingkungan baru bagi interaksi sosial seorang remaja yang nantinya juga akan mempengaruhi pembentukkan moral mereka.

Ketika remaja sudah berada di lingkungan barunya, yaitu kelompok teman sebaya, maka proses interaksi disini juga mulai berubah. Salah satu alasannya menurut Henslin (2007) karena teman sebaya cenderung akan mempengaruhi pola perilaku remaja. Lalu dia menambahkan bahwa ketika seorang remaja menjadi anggota suatu kelompok, berarti menyerahkan kepada orang lain tentang keputusan remaja dalam berperilaku. Jadi ketika seorang remaja masuk ke dalam sebuah kelompok, lalu anggota kelompok menentukan bahwa setiap anggota harus melakukan ini dan itu, maka setiap anggota harus taat. Ketaatan terhadap keputusan ini bukan karena ketakutan, tetapi lebih karena ada perasaan yang mengikat antar anggota kelompok (Henslin, 2007). Keputusan perilaku yang akan dijalankan remaja ditentukan oleh kelompok dan hal ini lama kelamaan akan mengubah moral dari remaja yang bergabung tadi. Dan akhirnya akan terlihat perubahan moral yang diakibatkan pergaulan dengan anggota kelompok.

Setelah penulis pelajari lebih dalam tentang kelompok teman, maka metode yang penulis ajukan adalah metode persahabatan antar anggota kelompok. Metode ini sebelumnya sudah diteliti oleh Monika Keller dan Wolfgang Edelstain (1991) yang berasal dari Institut Max Plank, Jerman. Mereka meneliti 97 remaja yang berumur 7 sampai dengan 15 tahun dan menyimpulkan dari hasi pengamatan dan wawancara mereka bahwa perkembangan moral seorang remaja, seperti  rasa tanggung jawab, saling mempercayai, hubungan yang semakin dekat, semakin berkembang seiring perkembangannya umur yang mulai dari 7 hingga 15 tahun.

Disini dapat dilihat bahwa metode persahabatan antar anggota kelompok memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan remaja. Dengan mengamati beberapa teori yang memberikan poin positif tentang pengelompokan para remaja dan juga penelitian yang dilakukan tentang persahabatan. Metode ini nantinya akan menciptakan tingkat kesadaran moral yang sangat tinggi pada remaja karena menurut Henslin (2007), metode ini lebih menekankan pada perubahan moral karena kenyamanan interaksi antara anggota kelompok. Sehingga ini juga menjadi alasan bagi penulis mengajukan metode persahabatan antar anggota kelompok. Dan penerapan metode ini hendaknya mulai dilakukan oleh para remaja.

Dan disini muara dari uraian singkat di atas dengan memperkuat kembali bahwa diperlukannya metode pembentukkan moral bagi para remaja. Pentingnya metode disini dikarenakan tingkat moral remaja saat ini sudah semakin menurun dengan munculnya berbagai kasus penyimpangan moral yang terjadi pada remaja. Metode ini bertujuan untuk mengurangi ataupun menghilangkan penyimpangan tersebut hingga menciptakan kembali pribadi-pribadi yang bermoral atau dengan moral yang baik. Selanjutnya metode-metode yang penulis ajukan dibagi berdasarkan pengelompokkan ke dalam lingkungan interaksi remaja yang terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan teman kelompok.

Dimulai dari lingkungan keluarga, dengan menerapkan metode otoritatif yang menekankan pada kesepakatan yang terjadi antara remaja dengan orangtuanya. Remaja di beri kebebasan dengan batasan-batasan yang diajukan oleh orang tua. Sehingga nantinya akan terbentuk remaja yang memiliki moral yang kompeten. Selanjutnya lingkungan sekolah dengan menggunakan metode pengajaran moral dan mengajar dengan moral yang keduanya ini tidak dapat dipisahkan dalam penerapannya. Metode ini mampu menciptakan suasana sekolah yang diharapkan bisa membentuk kepribadian para remaja lebih bermoral. Lalu yang terakhir adalah teman kelompok dengan metode persahabatan antar anggota kelompok. Metode persahabatan ini nantinya akan menciptakan tingkat kesadaran moral yang sangat tinggi pada remaja sehingga ini menjadi akhir rangkuman dari ketiga metode tersebut.

Penerapan semua metode ini diharapkan nantinya akan membentuk remaja-remaja dengan memiliki nilai moral yang tinggi yang nantinya akan ikut memperbaiki nilai-nilai moral yang menyimpang dan juga remaja-remaja yang memiliki kopetensi moral yang tinggi. Diharapkan nantinya akan membentuk keluarga, lingkungan masyarakat, negara yang menjalankan nilai-nilai moral yang ada.


 

Daftar Pustaka

Arifah, N. (2010). Peran Guru dalam Pendidikan Karakter, Moral, dan Budaya. Diakses pada 04 Juli 2010 dari

http://www.labschool-unj.sch.id/smajkt/publikasi.php?action=artikel&id=997

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional. (2009). Meningkatnya Jumlah Penderita HIV. Diakses pada 04 Juli 2010 darihttp://ceria.bkkbn.go.id/referensi/substansi/detail/188

Baunrind, D. (1966). Effect of Authoritative Parental Control on Childern Behavior. Diakses pada 04 Juli 2010 darihttp://persweb.wabash.edu/facstaff/hortonr/articles%20for%20class/baumrind.pdf

Direktorat Jendral Hak Asasi Manusia. (2009). Bulliying, Normalkah? Diakses pada 08 Juni 2010 dari http://www.ham.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=390:bullying-normalkah

Fenstermacher, G.D., Osguthorpe, R. D., & Sanger, M. N. (2009). Teaching Morally and Teaching Morality. Diakses pada 04 Juli 2010 darihttp://www.eric.ed.gov/ERICWebPortal/search/simpleSearch.jsp?_pageLabel=ERICSearchResult&_urlType=action&newSearch=true&ERICExtSearch_Related_0=EJ825996

Free Online Research Paper (2010) Parenting Style: Authoritarian, Permissive, and Authoritative. Diakses pada 04 Juli 2010 darihttp://www.freeonlineresearchpapers.com/parenting-styles-authoritarian-permissive-authoritative

Henslin, J. M. (2007). : Sosiologi dengan Pendekatan Membumi Edisi 6. (Sunarto, K. Terj) Jakarta: Erlangga (Karya asli diterbitkan 2006)

Keller, M., & Edelstain, W. (1991). The Development of Moral Responsibility in Friendship. Diakses pada 04 Juli 2010 darihttp://www.eric.ed.gov/ERICWebPortal/contentdelivery/servlet/ERICServlet?accno=ED337271

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2010). Sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) di Indonesia pernah berhubungan seks. Diakses pada 08 Juni 2010 darihttp://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/beritakpai/119-32-persen-remaja-indonesia-pernah-berhubungan-seks.html

Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja. (Adelar, S. B. & Saragih, S. Terj) Jakarta: Erlangga (Karya asli diterbitkan 1996)

Slavin, R. E. (2009). Educational Psycology: Psikologi Pendidikan.(Samosir, M. Terj) Jakarta:Indeks (Karya asli diterbitkan 2006)

Wulansari, C. D. (2009). Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung: Refika Aditama

Zulkarnaen, S. D. (2009). Kenakalan Anak Wujud Kepribadian dan Kreatifitas. Diakses pada 08 Juni 2010 dari http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/78-kenakalan-anak-wujud-kepribadian-dan-kreatifitas-anak.html