Tags

, , , , ,

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Metode pembelajaran yang berfokus pada guru sebagai sumber informasi, saat ini mulai mengalami kendala. Terlihat ketika sumber ilmu hanya berasal dari guru, maka siswa yang diajarpun hanya sebatas mendapatkan ilmu gurunya. Padahal guru sejatinya hanya manusia biasa yang terbatas juga ilmu. Sangat disayangkan jika siswa yang seharusnya bisa mendapatkan banyak ilmu, tetapi mereka hanya mendapatkan sedikit ilmu.

Begitu juga kejadiannya pada kegiatan Daurah Marhalah 1 KAMMI yang pada umumnya menggunakan metode fokus pembelajaran pada pemateri. Pemateri sumber informasi yang nantinya akan mentransferkan informasinya ke peserta fdaurah. Umumnya teknik pembelajaran yang fokusnya pada guru itu adalah dengan mengunakan teknik ceramah.

Pada teknik ceramah, pemateri menyampaikan informasi kepada pesertanya. Terkadang informasi yang diberikan cenderung satu arah, sehingga informasi yang satu arah ini sejatinya sangat rawan akan kesalahan.

Selain itu, informasi yang diterima peserta hanya berasal dari satu sumber yaitu pemateri. Padahal jumlah peserta yang ada di dalam kegiatan daurah marhalah I KAMMI itu sangat banyak. Tiap-tiap peserta yang ada di dalam kegiatan tersebut sejatinya pasti memiliki kelebihan informasi tersendiri. hal ini dikarenakan keunikan dan perbedaan latar belakang dan juga pengalaman dari tiap-tiap peserta. Sehingga sangat di sayangkan jika kemajemukan dari peserta yang ada, tidak dijadikan sumber informasi lain yang nantinya akan menjadikan pemahaman peserta akan suatu permasalahan menjadi lebih menyeluruh.

Tujuan

Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memperbaiki metode penyampaian materi yang biasa terjadi di daurah marhalah I KAMMI. Selain itu juga untuk memberikan gagasan baru tentang metode dalam penyampaian materi di daurah marhalah I. selanjutnya makalah ini bertujuan juga untuk memberikan ide tentang sistem penilaian yang terkait dengan motode yang digunakan pada penyampaian materi pada saat daurah.

Rumusan Masalah

Permasalahan yang terjadi secara umumpada daurah marhalah I KAMMI adalah metode penyampaian materi yang kadarluarsa. Metode tersebut terkadang membuat peserta parsial mendapatkan informasi, karena hanya berdasarkan satu sumber. Selain itu juga metode tersebut terkadang bisa membuat peserta mengantuk, karena peserta cenderung pasif. Hal ini terjadi akibat pola komunikasi satu arah yang terjadi dan transfer informasi satu arah (doktrin).

Sehingga dalam penulisan makalah ini, ada beberapa gagasan yang akan diulas yaitu, bagaimana metode alternatif penyampaian materi daurah marhalah 1 KAMMI? Selanjutnya apa kelebihan metode penyampaian materi tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN

Bertanya Sebagai Metode Menyampaikan Materi

Terkadang peserta daurah marhalah akan merasa bosan jika keseluruhan materi disampaikan terus menerus oleh Pemateri. Hal ini terjadi dikarenakan metode transfer informasi satu arah dari pemateri ke peserta daurah marhalah. Dalam teori pembelajaran terkini, mode seperti ini disebut Teacher Centered Learning (TCL), yaitu pembelajaran yang terpusat pada pemateri. Pemateri menjadi pusat informasi dari proses pembelajaran yang terjadi, sehingga pemateri dituntut untuk aktif dan banyak tahu dalam proses tersebut.

Metode pembelajaran yang terpusat pada pemateri secara umum sudah mulai dikurangi pemakaiannya. Hal ini terjadi karena kurang efektifnya hasil yang didapat oleh peserta. Sekarang sudah mulai terjadi transisi metode, yaitu dari teacher centered learning (TCL) menuju Students centred learning (SCL). SCL adalah metode pembelajaran yang menjadikan peserta pembelajaran sebagai fokus dari proses pembelajaran tersebut (Santrock, 2003). Implementasi SCL pada daurah marhalah adalah peserta dituntut untuk aktif dalam memberikan informasi yang dibutuhkan untuk proses pembelajarannya. Sedangkan tugas pemateri pada SCL hanyalah sebagai fasilitator.

Salah satu cara teknik yang digunakan untuk menciptakan pola pembelajaran SCL adalah dengan cara bertanya. Teknik bertanya di dalam pembelajaran sudah digunakan sejak zaman dahulu kala, yaitu pertama kali dirumuskan dan digunakan oleh Socrates. Disebutkan bahwa, Socrates menggunakan teknik bertanya dengan tujuan mengasah ketepatan dan kesempurnaan pola fikir manusia. sehingga teknik bertanya sangat tepat digunakan dalam membangun ide dan pola fikir manusia.

Dengan bertanya, pemateri dituntut untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tujuannya untuk menggali informasi yang ada pada siswa. Dari sana pemateri daurah marhalah akan mengetahui prior knowledge siswa dan dari prior knowledge tersebut, pemateri  diharapkan untuk membuat pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang tujuannya untuk mengkontruksi pemikiran siswa.

Kondisi daurah marhalah yang berisikan berbagai tipe peserta, membuat kaya akan informasi yang dapat digali. Setiap peserta yang memiliki berbagai pengalaman pembelajaran diharapkan mampu memberikan keberagaman informasi. Dengan beragam informasi tersebut, di harapkan mampu memberikan berbagai ilmu dan pembelajaran bagi seluruh peserta.

Bertanya Sebagai Penilaian Alternatif

Teknik bertanya sejatinya juga bisa digunakan dalam memberikan penilaian terhadap peserta daurah. penilaian yang diberikan bisa berasal dari jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh pemateri atau penilaian terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Keduanya bisa diukur dan menjadi nilai untuk peserta daurah.

Dalam mengukur atau memberikan penilaian bagi peserta daurah, pemateri ataupun panitia daurah marhalah bisa menggunakan standar yang di jelaskan Bloom di dalam Taksonominya. Taksonomi bloom terdiri dari 6 tingkatan dan setiap tingkatannya mempunyai kriteria-kriteria tersendiri.  Tingkatan-tingkatan dalam taksonomi bloom terdiri dari remembering, understanding, applying, analyzing, creating, dan evaluating.

Tingkatan – tingkatan yang ada pada taksonomi bloom bisa menjadi acuan penilaian. bukan hanya sebagai acuan penilaian, tetapi ini juga bisa menjadi acuan pengambilan sikap terhadap seorang peserta. Contohnya ada peserta daurah yang mendapatkan nilai rendah, lalu dari sana bisa dirumuskan kebijakan yang bertujuan untuk mengupgrade kapasitas dari peserta tersebut pasca daurah marhalah.

Sehingga teknik bertanyapun bisa digunakan sebagai acuan penilaian bagi panitia daurah marhalah. Hasil penilaian pasca daurahpun masih bermanfaat, terutama bagi kaderisasi yang nantinya akan membina kader-kader baru itu.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Secara umum metode penyampaian materi dengan bertanya memiliki berberapa keunggulan. Mulai dari aktifnya peserta daurah dalam materi, sehingga daurah tidak berlangsung satu arah. lalu selanjutnya dengan metod ini mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh bagi peserta daurah. Bukan hanya pemahaman yang menyeluruh, tetapi koreksi informasi juga terjadi jika terjadi kesalahan. Sehingga metode yang dikenalkan oleh Socrates ini (bertanya), bagus digunakan di dalam daurah marhalah I kammi.

Selain itu metode ini juga memiliki fungsi lain selain dari menyampaikan materi. fungsi lain dari metode bertanya yang digunakan pemateri adalah sebagai alat untuk memberikan penilaian bagi peserta. Dengan menggunakan taksonomi bloom, panitia daurah bisa mengukur kapasitas dari tiap-tiap peserta daurah. Kapasitas itu diukur dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta ataupun jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh pemateri. Hasi penilaian ini nantinya sangat diperlukan oleh kaderisasi komisariat sebagai bahan referensi mengambil kebijakan untuk peserta terkait.

Saran

Makalah ini masih sangat jauhd ari sempurna, dikarenakan keterbatasan waktu pengerjaan. Sehingga dari sini sangat dibutuhkan masukan-masukan untuk perbaikan makalah ini kedepannya.

REFERENSI

Santrock, J. W. (2003). Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga

Socratic Question, diambil di
http://changingminds.org/techniques/questioning/socratic_questions.htm

Bloom’s Taxonomy and Costa’s Level of Questioning, diambil di http://daretodifferentiate.wikispaces.com/file/view/NoelleCombsInquiryLesson.pdf