Tags

, ,

Belakangan ini sungguh memprihatinkan jika kita melihat perilaku para remaja di indonesia. Bisa dikatakan banyak sekali suara-suara yang memojokkan posisi mereka. Mulai dari kasus yang di tayangkan di televisi, hingga media cetak yang kita konsumsi setiap harinya. Sehingga jangan heran ketika para orangtua sangat ketakutan akan kondisi dan perilaku remajanya di luar rumah.

Kondisi yang memojokkan seperti ini merupakan kondisi yang tidak sehat. Jika para remaja terus menerus disalahkan dan dipojokkan maka hal ini akan menghambat perkembangannya, terutama perkembangan sosialnya. Sebenarnya tidak semua remaja berperilaku buruk seperti yang ada dalam pemberitaan. Tetapi memang kebanyakan yang ditampilkan atau yang disorot hanyalah hal yang jelek-jeleknya saja. Sehingga hal ini secara tidak langsung membuat para orangtua membatasi pergaulan remajanya.

Sebenarnya pembatasan pergaulan merupakan sebuah kondisi yang kurang baik bagi perkembangan sosial masyarakat bagi remaja itu. Karena dengan melihat dinamika yang ada di masyarakat, malah akan mempercepat kematangan seorang remaja menuju dewasa dan malah akan menumbuhkan nilai-nilai moral pada remaja tersebut. Tetapi memang yang diperlukan adalah filter yang mampu membentengi remaja dalam bergaulnya, bukan pembatasan pergaulan. Sehingga, para orangtua tidak perlu membatasi pergaulan remajanya dan yang harus dilakukan adalah memberikan filter pada remaja mereka. Dan pendidikan moral yang membumi adalah salah satu gagasan yang ditawarkan sebagai pola pendidikan moral bagi para remaja saat ini.

Ada beberapa komponen pendidikan moral yang perlu dilakukan. Pendidikan moral oleh guru dan pendidikan moral oleh orangtua. Pelaksanaan pendidikan moral ini haruslah komprehensif, tidak hanya dilakukan oleh guru di sekolah, atau hanya oleh orangtua dirumah. Tetapi semuanya haruslah berjalan dan bersinergi secara bersamaan. Agar tercipta sistem pendidikan moral yang mampu membentuk filter bagi remaja.

Pendidikan moral pertama kali harus diberikan oleh guru di sekolah.  Pendidikan moral tidak harus berupa materi yang diberikan khusus di dalam kelas. Malah pendidikan moral yang paling efektif adalah ketika guru mengaplikasikan nilai-nilai moral dalam pengajaran. Atau juga bisa berupa pesan-pesan moral yang akan dengan mudah dicerna oleh remaja. Contohnya seorang guru hendaknya tidak merokok di dalam kelas atau di sekolah agar siswanya tidak merokok. Atau seorang guru hendaknya tidak mengeluarkan kata-kata yang kurang baik agar siswa tidak mencontohnya atau mengikutinya. Tindakan lain bisa juga dengan menegur siswa ketika melakukan atau mengatakan hal-hal yang kurang baik.

Tindakan-tindakan aplikatif seperti ini lebih efektif dari pada hanya sekedar teori saja. Karena memang peran guru sebagai contoh itu sangat efektif dalam mengarahakan pembentukan karakter remaja. Kita juga sangat sering mendengar pribahasa satu ini, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Sebagian dari kita pasti sangat hafal pribahasa ini, karena memang sudah diajarkan dari sejak di bangku sekolah dasar. Sebenarnya guru sudah sangat paham akan hal ini, tinggal bagaimana mengaplikasikan teori yang ada.

Selanjutnya pendidikan moral juga harus dilakukan oleh orang tua di rumah bagi para remajanya. Apa daya jika lingkungan di sekolah mendukung pendidikan moral sedangkan di rumah remaja kembali menjadi “bebas”. Padahal tindakan-tindakan orang tua di rumah itu sangat mempengaruhi tindakan atau sikap seorang remaja. Kembali kita merujuk pada pribahasa yang sering diajarkan dipelajaran bahasa di sekolah dasar. “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”, yang mengindikasikan bahwa pola tingkah laku anak itu tidak akan berbeda jauh dengan pola tingkah laku orangtuanya.

Salah satu pola asuh yang sesuai bagi orang tua adalah dengan memberikan kebebasan kepada remaja tetapi tetap dengan control dan batasan-batasan yang jelas (autoritative). Dengan Metode ini, para remaja diberikan kebebasan dalam bertindak dengan batasan-batasan dari orangtua untuk mengendalikan diri mereka. Dalam metode ini juga akan terjadi konsensus antara orangtua dan remaja. Hal ini terjadi karena orangtua yang memiliki aturan tersendiri dan remaja juga sudah memiliki kebebasan dalam menentukan aturannya. Pada konsensus nantinya akan terjadi komunikasi verbal yang bebas. Orangtua akan bersikap hangat dan membesarkan hati remajanya sedangkan remaja bisa memaparkan ide-ide nya secara bebas. Sehingga nantinya akan tercipta remaja yang memiliki karekter atau moral yang kompeten serta terarah.

Sehingga jelas bahwa pendidikan moral harus dilakukan secara komprehensif oleh guru di sekolah serta orangtua di rumah. Pendidikan moral tidak akan berhasil jika orangtua hanya menyerahkan sepenuhnya pendidikan moral itu hanya diterapkan di sekolah, sedangkan dirumah tidak. Dan itupun juga tidak akan berhasil jika sekolah tidak menerapkan nilai-nilai moral pada remaja di kelas atau disekolah. Keduanya harus saling bersinergi agar tercipta remaja yang tidak hanya kompeten secara kognitif tetapi juga cerdas secara moralitas.